Badan intelijen Amerika Serikat baru-baru ini merilis laporan tahunan yang menyoroti China sebagai ancaman teratas bagi keamanan nasional AS, baik dari segi militer maupun dunia maya. Laporan ini disampaikan menjelang sidang kesaksian di hadapan Komite Intelijen Senat, mengindikasikan bahwa China tetap menjadi fokus utama perhatian intelijen AS.
Ancaman Militer dan Siber
Laporan tersebut menyoroti bahwa China memiliki kemampuan untuk menyerang AS menggunakan senjata konvensional dan menargetkan infrastruktur kritis melalui serangan dunia maya. Selain itu, kekuatan militer China yang terus berkembang membuat AS waspada terhadap potensi ancaman dari Asia Timur ini.
China juga disebut berupaya menggantikan dominasi AS sebagai kekuatan terdepan dalam bidang kecerdasan buatan (AI) pada tahun 2030. Ambisi strategi tingkat nasional yang dimiliki China mencakup pengembangan teknologi AI dan penggunaannya dalam strategi militer modern.
Peningkatan Kapabilitas Militer China
Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard, dalam laporannya kepada komite menyebutkan bahwa China memiliki berbagai kemampuan militer canggih. Kapabilitas ini mencakup senjata hipersonik, pesawat siluman, serta kapal selam dan sistem perang siber yang semakin kuat. Selain itu, persenjataan nuklir China juga mengalami peningkatan yang signifikan.
“Militer China mengerahkan kemampuan yang lebih kuat, termasuk aset di ruang angkasa dan persenjataan nuklir yang lebih besar,” sebut Gabbard.
Strategi Ekspansi Global
Menurut laporan tersebut, China berupaya untuk memperluas pengaruhnya di Asia dan sekitarnya melalui berbagai inisiatif ekonomi dan infrastruktur. Hal ini termasuk proyek-proyek besar yang bertujuan untuk memperkuat kehadiran global China dan memperkuat kontrol regionalnya di Asia-Pasifik.
Selain itu, China dikatakan juga melakukan upaya terkoordinasi dalam menciptakan berita palsu dan meniru persona guna mendukung kampanye disinformasi global, strategi yang memanfaatkan kemajuan teknologi termasuk model bahasa besar untuk mempengaruhi opini publik internasional.
Respon dari Pemerintah China
Menanggapi laporan ini, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, menolak klaim AS tersebut dan menyatakan bahwa China berkomitmen untuk menjadi kekuatan perdamaian dan stabilitas global. Liu menekankan bahwa China akan terus menjaga kedaulatan nasional, keamanan, dan integritas teritorialnya.
Ia juga menyebutkan bahwa penyalahgunaan fentanil yang seringkali diduga datang dari China merupakan masalah internal AS yang perlu dihadapi oleh negeri Paman Sam tersebut.
Dalam nuansa ketegangan global ini, hubungan AS dan China tetap berada dalam sorotan dengan tantangan yang bersumber dari perbedaan kebijakan dan pendekatan diplomatik masing-masing negara.